Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika


A.      Pengertian
Kemampuan adalah kecakapan atau potensi menguasai suatu keahlian yang merupakan bawaan sejak lahir atau merupakan hasil latihan maupun praktek dan digunakan untuk mengerjakan sesuatu yang diwujudkan melalui tindakannya. Sedangkan, pemecahan masalah merupakan kegiatan menyelesaikan soal cerita, menyelesaikan soal yang tidak rutin, mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari atau keadaan lain, dan membuktikan atau menciptakan maupun menguji konjektur. Kemampuan pemecahan masalah matematika adalah kecakapan atau potensi yang dimiliki seseorang atau siswa dalam menyelesaikan soal cerita, menyelesaikan soal yang tidak rutin, mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari atau keadaan lain, dan membuktikan, menciptakan atau menguji konjektur.
Pemecahan masalah sebagai salah satu aspek kemampuan berpikir tingkat tinggi. Polya menyatakan bahwa pemecahan masalah merupakan suatu tingkat aktivitas intelektual yang sangat tinggi. Pemecahan masalah adalah suatu aktivitas intelektual untuk mencari penyelesaiaan masalah yang dihadapi dengan menggunakan bekal pengetahuan yang sudah dimiliki. Pendapat tersebut didukung oleh pernyataan Branca (dalam Utari, 1994:8), dan dalam Nida dan Fitri (2008:l) kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan umum dalam pembelajaran matematika, bahkan sebagai jantungnya matematika, artinya kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar dalam matematika. Lebih jauh, dengan membiasakan siswa untuk menyelesaikan masalah, menurut Cooney (dalam Hudoyo, 1979:16l), memungkinkan siswa itu menjadi lebih analitis dalam mengambil keputusan dalam kehidupannya. Berkenaan dengan apa yang didapatkan siswa dari melakukan suatu pemecahan masalah.
Pemecahan masalah dianggap merupakan standar kemampuan yang harus dimiliki para siswa setelah menyelesaikan suatu pembelajaran. Kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan yang merupakan target pembelajaran matematika yang sangat berguna bagi siswa dalam kehidupannya.
Dalam pembelajaran matematika, guru sangat dianjurkan untuk menerapkan model-model pembelajaran pemecahan masalah. Menurut Wahab (2007:94) model pembelajaran pemecahan masalah adalah strategi yang dapat mendorong dan menumbuhkan kemampuan anak dalam menemukan dan mengolah informasi.
Martinis Yamin (2008:85) menyatakan strategi atau model pembelajaran pemecahan masalah adalah strategi yang merangsang berfikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan siswa. Guru disarankan melihat jalan fikiran yang disampaikan siswa, pendapat siswa, serta memotivasi siswa untuk mengeluarkan pendapat mereka dan guru tidak boleh tidak menghargai pendapat siswa sekalipun pendapat siswa tersebut salah menurut guru. Selanjutnya Rusman (2010:235) menyatakan pemecahan masalah yang efektif dalam setting dunia nyata melibatkan penggunaan proses kognitif, meliputi perencanaan penuh untuk berpikit, berpikir secara menyeluruh, berpikir secara sistematis, berpikir analitis berpikir, analogis dan berpikir sistem.
Pemecahan masalah dapat dilaksanakan apabila siswa telah berada pada tingkat yang lebih tinggi dengan prestasi yang tinggi pula, tetapi strategi atau model pembelajaran ini harus diwaspadai karena akan menyebabkan frustasi bagi siswa lantaran masing-masing mereka belum dapat menemukan solusinya dari proses yang kita lakukan. Akan tetapi guru dapat menggambarkan bahwa yang diminta adalah buah fikiran dengan alasan-alasan rasional.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (205:103), pemecahan masalah adalah strategi yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir siswa dan penggunaannya dapat dilakukan bersama model pernbelajaran lain. Bisanya guru memberikan persoalan yang sesuai dengan topik yang mau diajarkan dan siswa diminta untuk memecahkan permasalahan itu. Hal ini dapat dilakukan dalam kelompok maupun individu dan guru sebaiknya meminta siswa mengungkapkan bagaimana cara mereka memecahkan persoalan tersebut bukan hanya melihat hasil akhirnya.
Model pemecahan masalah dapat juga membantu mengatasi salah pengertian. Siswa mengerjakan beberapa soal yang telah disiapkan guru. Dari pekerjaan itu, dapat dilihat apakah gagasan siswa benar atau tidak. Dengan memecahkan persoalan, siswa dilatih untuk mengkoordinasikan pengertian mereka dan kemampuan mereka. Sebaiknya siswa diberi waktu untuk menjelaskan pemecahan soal mereka di depan kelas dan teman-teman lainnya.
S. Nasution (2008:170) menyatakan pemecahan masalah dapat dipandang sebagai proses di mana siswa menemukan kombinasi aturan-aturan yang telah dipelajarinya terlebih dahulu yang digunakannya untuk memecahkan masalah, tidak sekedar aturan-aturan yang diketahui, akan tetapi juga menghasilkan pelajaran baru. Langkah-langkah yang diikuti dalam pemecahan masalah yakni :
a.       siswa dihadapkan dengan masalah
b.      siswa merumuskan masalah tersebut
c.       siswa merumuskan hipotesis
d.      siswa menguji hipotesis
Wina Sanjaya (2009: 214) menyatakan masalah diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Terdapat 3 ciri utama yakni: pertama, dalam mengimplementasikan ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. Siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkan. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Ketiga pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pemecahan masalah dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan meningkatkan wawasan siswa dalam mengolah dan memberikan informasi.
Hudoyo (1929:165) mengatakan bahwa pemecahan masalah merupakan suatu hal yang esensial dalam pembelajaran matematika sebab:
a.    Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan, kemudian menganalisanya dan akhirnya meneliti hasilnya
b.    Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam, merupakan masalah intrinsik bagi siswa,
c.    Potensi intelektual siswa meningkat
d.   Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses melakukan penemuan.
Menurut Jhon (2008:5), indikator pemecahan masalah adalah sebagai berikut:
a.    Membangun pengetahuan matematika melalui pemecahan masalah
b.    Menyelesakan soal yang muncul dalam matematika
c.    Menerapkan dan menyesuaikan berbagai macam strategi yang cocok untuk memecahkan soal.
d.   Mengamati dan mengembangkan proses pemecahan masalah matematika.
Beberapa indikator pemecahan masalah dapat diperhatikan dari paparan Sumarmo (2003), adalah sebagai berikut:
a.    Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan.
b.    Merumuskan masalah matematika atau menyusun model matematika.
c.    Menenpatkan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah (sejenis dan masalah baru) dalam atau di luar matematika
d.   Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal
e.    Menggunakan matematika secara bermakna
Indikator kemampuan pemecahan masalah matematika adalah sebagai berikut:
a.    Memahami masalah, yaitu mengidentifikasi kecukupan data untuk menyelesaikan masalah sehingga memperoleh gambaran lengkap apa yang diketahui dan ditanyakan dalam masalah tersebut.
b.    Merencanakan penyelesaian, yaitu menetapkan langkah-langkah penyelesaian, pemilihan konsep, persamaan dan teori yang sesuai untuk setiap langkah.
c.    Menjalankan rencana, yaitu menjalankan penyelesaian berdasarkan langkah-langkah yang telah dirancang dengan menggunakan konsep, persamaan serta teori yang dipilih.
d.   Melihat kembali apa yang telah dikerjakan yaitu tahap pemeriksaan, apakah langkah-langkah penyelesaian telah terealisasikan sesuai rencana sehingga dapat memeriksa kembali kebenaran jawaban yang pada akhirnya membuat kesimpulan akhir.



B.       Tahapan-tahapan Pemecahan Masalah
Wina Sanjaya (2009:214) menyatakan bahwa tahapan-tahapan dalam pemecahan masalah yaitu:
a.       Merumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan
b.      Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang
c.       Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan sesuai dengan yang dimilikinya
d.      Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah
e.       Melakukan pengujian hipotesis yaitu lagkah siswa rnengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan
f.       Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai dengan rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.
David Johnson & Johnson (dalam Wina Sanjaya 2009: 217) menyatakan ada 5 langkah dalam pemecahan masalah, yakni:
a.       Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah yang akan dikaji.
b.      Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah serta menganalisis berbagai faktor baik yang menghambat maupun faktor pendukung dalam penyelesaian masalah.
c.       Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas.
d.      Menentukan dan menetapkan strategi pilihan yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan
e.       Melakukan evaluasi baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil.

Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan dalam pemecahan masalah dilakukan dengan tahapan-tahapan berikut :

1.      Memahami Masalah
Pada langkah ini, siswa harus dapat menentukan dengan jeli apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. Namun yang perlu diingat kemampuan otak manusia sangatlah terbatas, sehingga hal-hal penting hendaknya dicatat, dibuat tabelnya, ataupun dibuat sket atau grafiknya. Tabel serta gambar ini dimaksudkan untuk mempermudah memahami masalah dan mempermudah mendapatkan gambaran umum penyelesaian. Dengan membuat gambar, diagram atau tabel, hal-hal yang diketahui tidak hanya dibayangkan di dalam otak yang sangat terbatas kemampuannya, namun dapat dituangkan di atas kertas.

2.      Memilih Strategi Penyelesaian (Merencanakan Penyelesaian Masalah)
Siswa menyusun aturan-aturan atau tata urutan kemungkinan pemecahan masalah, sehingga tidak ada satupun alternatif yang terabaikan.

3.      Menyelesaikan Masalah
Hal-hal yang dilakukan ketika menyelesaikan masalah di antaranya:
v  Melakukan rencana strategi yang dipilih untuk memperoleh penyelesaian dari masalah
v  Perhatikan apakah setiap langkah yang dilakukan sudah benar (validitas argument dapat dipertanggungjawabkan).

4.      Memeriksa Kembali
Hal-hal yang dilakukan dalam memeriksa penyelesaian yang dihasilkan di antaranya:
v  Memeriksa validitas argumen pada setiap langkah yang dilakukan
v  Menggunakan hasil yang diperoleh pada kasus khusus atau masalah lainnya
v  Menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda.

C.  Kelebihan dan Kekurangan Model Pemecahan Masalah
Syaiful Bahri Djamarah (2005:l04) menyatakan model pemecahan masalah memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan
a.       Dapat membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan, khususya dunia kerja
b.      Proses pembelajaran melalui pemecahan masalah dapat membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil, apabila menghadapi permasalahan di dalam kehidupan, dalam keluarga, bermasyarakat, dan bekerja kelak, suatu kemampuan yang sangat bermakna bagi kehidupan manusia
c.       Merangsang berpikir siswa secara keatif dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya siswa banyak melakukan mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai segi dalam rangka mencari pemecahannya
Kekurangan
a.       Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru
b.      Proses pembelajaran dengan menggunakan metode ini sering memerlukan waktu yang cukup banyak dan sering terpaksa mengambil waktu matapelajaran lain.
c.       Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dan guru mejadi belajar dengan banyak berfikir memecahkan masalah sendiri atau kelompok yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa.
Sedangkan Wina Sanjaya (2009: 220) memberikan batasan keunggulan dan kelemahan model pembelajaran pemecahan nasalah yakni:
Keunggulan
a.    Pemecalnn masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih mendalami isi pelajaran
b.    Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa
c.    Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran
d.   Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata
e.    Pemecahan masalah dapat membantu siswa pengetahuan baru dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
f.     Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (Matematika, IPA, IPS dan sebagainya) pada dasarya merupakan cara berpikir dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa
g.    Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa
h.    Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
i.      Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata
j.      Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar.
Kelemahan
a.    Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan maka mereka enggan untuk mencoba
b.    Keberhasilan model pembelajaran ini membutuhkan cukup waktu untuk persiapan
c.    Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka pelajari.

D.      CONTOH SOAL PEMECAHAN MASALAH
 Contoh 1 :
Ada berapa cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh jumlah uang sebesar Rp. 25.000,00 dengan pecahan puluhan ribu, lima ribuan, dan ribuan ?

Penyelesaian:
Memahami Masalah
Terdapat banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh jumlah uang sebesar Rp. 25.000,00. Puluhan ribu (P), lima ribuan (L), dan ribuan (R) tidak perlu digunakan semuanya sekaligus untuk mendapatkan jumlah yang diinginkan.
Merencanakan Penyelesaian Masalah
  Untuk menyelesaikan masalah ini dapat dilakukan antara lain melalui  pemanfaatan  tabel

Menyelesaikan Masalah
  Dengan memperhatikan kombinasi tiga jenis pecahan yang diperbolehkan, maka didapatkan tabel berikut:
P
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
2
2
L
0
1
2
3
4
5
0
1
2
3
0
1
R
25
20
15
10
5
0
15
10
5
0
5
0

 Dari tabel ini jelas terlihat bahwa terdapat 12 kemungkinan pasangan uang   pecahan sehingga diperoleh jumlah Rp. 25.000,00

       Melakukan Pemekrisaan Kembali
Periksa kembali jumlah untuk tiap kolom
Untuk kolom 1:  0P +0L+25R = 0 + 0 + Rp25.000,00                    = Rp.25.000,00
Untuk kolom 2 : 0P +1L+20R = 0 + Rp5000,00 + Rp 20.000,00    = Rp.25.000,00
Untuk kolom 3 : 0P +2L+15R = 0 + Rp10.000,00 + Rp15.000,00  = Rp.25.000,00
Dan seterusnya sampai pada kolom ke-12

 Contoh 2 :
Suatu daerah perladangan terdapat sapi dan ayam. Dari udara dapat dihitung jumlah kepala yaitu 80 dan ayam dapat menghitung jumlah kaki sebanyak 246 kaki. Hitunglah masing masing jumlah sapi dan ayam!
Penyelesaiannya :

Memahami Masalah
a.       sapi mempunyai kaki 4
b.      ayam mempunyai kaki 2


Merencanakan Penyelesaian Masalah
Untuk menyelesaikan masalah ini dapat dilakukan antara lain melalui  teknik terka dan uji kembali dengan pemanfaatan tabel

Menyelesaikan Masalah
Ø  Terkaan pertama,  jika semua ayam maka jumlah kaki adalah 160, lebih sedikit dari jumlah kaki yang ada.
Ø  Terkaan kedua, jika semuanya sapi maka jumlah kaki adalah 320, lebih banyak dari jumlah kaki yang ada.
Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Terka
Sapi
Ayam
Jumlah Kaki
Komentar

1
0
80
160
Jumlah kaki tidak sesuai (lebih sedikit dari 246)
2
80
0
320
Jumlah kaki tidak sesuai (lebih sedikit dari 246)
3
40
40
40.4+40.2=240
Jumlah kaki tidak sesuai (lebih sedikit dari 246)
4
60
20
280
Jumlah kaki tidak sesuai (lebih banyak dari 246)
5
50
30
260
Jumlah kaki tidak sesuai (lebih banyak dari 246)
6
45
35
250
Jumlah kaki tidak sesuai (lebih banyak dari 246)
7
42
38
244
Jumlah kaki tidak sesuai (lebih banyak dari 246)
8
43
37
246
Yang dicari

Melakukan Pemekrisaan Kembali
Jika semua kita anggap ayam, kita hanya mempunyai jumlah kaki sebanyak 160 dan sisa kaki adalah 246 – 160 = 86. Hitungan ini dapat kita pandang sebagai jumlah kaki sapi yang sudah dihitung hanya berjumlah dua, dua kaki yang lainnya belum dihitung.  Dengan demikian sisa sebanyak 86 kaki berasal dari dua kaki sapi lainnya. Oleh karena itu jumlah sapi sebanyak : 86/2=43 ekor, dan jumlah ayam adalah 80 - 43 = 37 ekor.


Contoh 3 :









Susunlah bilangan-bilangan 1 sampai 9 ke dalam tiap daerah persegi pada gambar di bawah ini sehingga jumlah tiap baris, kolom, dan diagonal utamanya adalah sama.



Memahami Masalah
Yang perlu dilakukan adalah adalah bagaimana kita harus menempatkan tiap bilangan 1, 2, 3, ...., 9 dan tiap daerah persegi (tiap bilangan hanya digunakan satu kali), sedemikian hingga jumlah bilangan-bilangan pada tiap baris, kolom, dan diagonal utamanya adalah sama

Merencanakan Penyelesaian Masalah
Jika kita sudah tahu jumlah untuk tiap baris, kolom, dan diagonal utamanya, maka pekerjaan kita akan lebih mudah. Dengan demikian yang menjadi tukuan bagian dari penyelesaian keseluruhan adalah bagaimana menentukan jumlah yang diinginkan tersebut. Jumlah sembilan bilangan 1+ 2 + 3 +....+ 9 sama dengan tiga kali jumlah dari satu kolom atau baris. Akibatnya, jumlah untuk satu baris atau kolom adalah sepertiga dari jumlah keseluruhan atau 45/3 = 15. Dengan kata lain jumlah untuk masing-masing baris, kolom, atau diagonal utama adalah 15. Langkah selanjutnya adalah harus menentukan kombinasi tiga bilangan sedemikian hingga jumlahnya 15.

Menyelesaikan Masalah
Jumlah 15 dapat diperoleh melalui kombinasi jumlah tiga bilangan seperti berikut ini:
9 + 5 + 1, 9 + 4 + 2, 8 + 6 +  1, 8 + 5 +  2, 8 + 4 +  3, 7 + 6 +  1, 7 + 5 +  3,
6 + 5 +  4
Jika diperhatikan banyaknya kemunculan untuk tiap angka, ternyata tidaklah sama. Misalnya, 1 hanya muncul dua kali, sedangkan 2 muncul tiga kali. Berdasarkan frekuensi kemunculan angka, maka diperoleh tabel berikut ini:
Angka
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Frekuensi
kemunculan
2
3
2
3
4
3
2
3
2

Dengan melihat tabel frekuensi kemunculan tiap angka pada tabel, maka selanjutnya penempatan untuk tiap angka akan lebih mudah dilakukan. Misalnya, 5 harus ditempatkan di tengah, 2, 4, 6 dan 8 ditempatkan dipojok persegi.
Dengan demikian penyelesaian akhirnya adalah:
2
7
6
9
5
1
4
3
8

Melakukan Pemekrisaan Kembali
Kita lihat bahwa 5 adalah satu-satunya bilangan di antara sembilan bilangan yang diberikan yang dapat ditempatkan di tengah. Akan tetapi bilangan yang bisa ditempatkan didaerah pojok bisa beberapa pilihan. Jadi penyelesaian yang diberikan  di atas merupakan salah satu kemungkinan dari kemungkinan yang ada. Cara lain untuk melihat bahwa 5 harus ditempatkan di tengah adalah sebagai berikut:
 1           2            3           4           5         6            7          8           9           


 
                                                      


                                                     10
Dari ilustrasi ini terlihat bahwa untuk memperoleh jumlah 15, 5 harus dipasangkan dengan empat pasangan bilangan lain yang masing-masing jumlahnya 10.






E.       Rubrik Penskoran Soal-Soal Pemecahan Masalah
              
Skor
Kriteria
Memahami Masalah
Memilih Strategi Penyelesaian
2
Memahami masalah dalam       soal dengan lengkap

Rencana benar dan lengkap mengarah kepada penyelesaian yang benar
1
Memahami sebagian masalah / interpretasi soal kurang lengkap
Rencana benar berdasarkan sebagian masalah yang diinterpretasikan dengan benar
0
Tidak memahami masalah/salah interpretasi/tidak ada jawaban

Tidak ada rencana penyelesaian/rencana yang dibuat salah


Skor
Kriteria
Melaksanakan Strategi
Memeriksa kebenaran hasil
2
Melaksanakan prosedur benar dengan jawaban benar
Pengecekan kebenaran hasil secara lengkap
1
Melaksanakan prosedur benar tetapi ada sebagian salah
Pengecekan kebenaran hasil tidak lengkap
0
Tidak ada jawaban / jawaban salah berdasarkan rencana yang tidak tepat
Tidak ada pengecekan terhadap hasil atau pemeriksaan salah.


4 komentar:

  1. assalamualaikum..
    maaf sebelumnya, mau nanya pa bu, yang posting, postingan ini siapa ya? soalnya saya mau ambil sebagai referensi kuliah... bingung kalo ga ada nama yang postingnya....
    terima kasih

    BalasHapus
  2. bolehkah saya minta daftar pustakanya? terimakasih

    BalasHapus
  3. mana daftar pustakanya

    BalasHapus

Komentar

Popular Posts

 
Support : Jen Kelana | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Pendidikan Matematika - All Rights Reserved
Template Modified by Boleh Saja Published by Source Template
Proudly powered by Blogger